Terkadang kita mempunyai uneg-uneg ataupun perasaan yang mungkin kita tidak bisa mengungkapkan semuanya. mungkin karena kita malu, mungkin karena terlalu indahnya rasa itu, atau karena memang kita tidak menginginkan untuk mengungkapkannya kepada orang lain secara langsung. yang jelas keinginan untuk mengungkapkan semua apa yang ada di fikiran kita adalah hal yang normal-normal saja karena memang kita sebagai manusia telah Tuhan berikan yang namanya akal untuk berfikir. entah itu fikiran yang berbentuk positif ataupun yang berbentuk negatif alangkah baiknya diungkapkan dalam arti kenapa fikiran seperti itu bisa muncul di otak kita. kenapa saya bisa sampai berfikiran seperti itu. bagaimana bila orang lain mengetahui apa yang ada di fikiran kita, kapan dan di mana fikiran-fikiran itu bisa kita ungkapkan secara langsung kepada yang bersangkutan, dan lain sebagainya adalah hal yang urgen bagi kehidupan kita. apa yang kita ungkapkan kepada orang lain akan berakibat suasana baru dalam sebuah hubungan dengan yang bersangkutan.
untuk fikiran yang berbentuk positif patut sekali untuk orang lain mengetahuinya, namun dalam konteks waktu dan keadaan yang tepat dan sesuai dengan keadaan yang bersangkutan. namun untuk fikiran yang berbau negatif adalah hal yang urgen untuk diungkapkan kepada orang yang memang pakarnya dalam bidang tersebut. mengingat negara kita adalah negara beragama maka sepatutnya kita bertanya kepada ahli agama menurut kepercayaan kita masing-masing untuk bertanya kenapa fikitan negatif seperti itu bisa muncul dalam benak kita. apa yang harus kita lakukan apabila fikiran tersebut muncul dan bagaimana solusi agar fikiran tersebut tidak sampai terimplementasi dalam perbuatan yang nantinya akan menimbulkan perilaku desdruktif. manajemen fikiran atau ada yang mengatakan manajemen kalbu memang diperlukan agar tercipta suasana yang nyaman dan diharapkan terbentuk pribadi yang cerdas dan pergaulan yang sehat. sampai saat inipun penulis masih mencari dan belajar bagaimana mengelola fikiran (kalbu), karena jujur penulis adalah manusia biasa yang tidak lepas dari salah dan lupa sehingga fikiran-fikiran negatif tentu ada dalam benak penulis. saya masih mencari tahu bagaimana agar fikiran negatif tersebut tidak sampai terucap dalam lisan bahkan jangan sampai terwujud dalam perbuatan
ada salah seorang intelektual mengatakan bahwa kalbu yang dimaksud adalah fikiran kita. jadi apabila kita ingin me manage kalbu kita berarti kita harus mengelola fikiran kita, otak kita, yang dalam bahasa populer kita adalah positif thinking. implementasi positif thinking adalah mengelola fikiran kita bagaimana agar fikiran-fikiran negatif tersebut bisa diminimalisir dalam otak kita. ada orang yang fikiran positifnya lebih banyak dari fikiran negatifnya, maka orang seperti ini akan masuk kepada kategori orang baik. sebaliknya orang yang fikiran negatifnya lebih banyak dari fikiran positifnya maka orang ini akan masuk dalam kategori orang jahat. karena kita semua menyadari tidak ada orang yang sempurna tanpa ada salah sedikitpun. kita bukan malaikat yang bersih tanpa dosa dan noda, kita bukan bayi mungil yang baru lahir tanpa ada cela di fikirannya. memang terkadang kita melakukan perilaku yang bersifat positif, terkadang pula kita melakukan perilaku yang tergolong negatif. namun hal yang urgen adalah bagaimana agar fikiran positif kita lebih banyak daripada fikiran negatif kita sehingga kita akan masuk dalam kategori THE RIGHT HUMAN sehingga kita akan menjadi pemenang dalam hidup kita dan bukanlah seorang pecundang atau sampah masyarakat.
ada salah satu resep yang penulis dapatkan dari salah seorang intelektual muda Yang Mulia Anwar Zahid dari bojonegoro beliau mengatakann bagaimana agar fikiran negatif kita tidak terimplementasi dalamm perbuatan sehingga kita tidak akan sampai melakukan perilaku menyimpang dan negatif. resep yang beliau berikan begitu simpel namun dibutuhkan tenaga ekstra dan keteguhan yang kuat agar kita tidak sampai berbuat menyimpang. beliau mengatakan apabila kita akan melakukan perilaku negatif maka tahanlah jangan sampai kita melakukan hal tersebut. secara singkat sepertinya hal itu mudah namun perlu kita ketahui bahwa godaan orang oleh makhluk terkutuk yang bernama syetan kekuatannya sesuai dengan yang digoda. apabila yang digoda adalah berlevel kopral, maka syetan yang menggoda juga berpangkat kopral, apabila yang digoda adalah jendral maka syetannya juga berpangkat jendral, sesuai dengan istilah semakin tinggi pohon maka akan semakin kencang angin yang bertiup. maka dari itu maka kita sekuat tenaga menahan fikiran-fikiran negatif kita agar tidak terwujud dalam perilaku keseharian kita sehinggan kita akan berpredikat THE RIGHT HUMAN dengan memperbanyak belajar dan berguru kepada yang berkompeten dalam bidangnya sesuai dengan asas negara kita yaitu negara beragama.
tertanda manusia yang lemah dan hina
(Adib Rosidin, 12 april 2013)